PANDEGLANG-Mediapolisi.Com Tumpukan batu bata, pasir, dan beberapa sak semen terlihat berserakan di sebidang tanah di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten. Di lokasi itulah Kanang, seorang kaum masjid, berusaha membangun kembali rumahnya yang hangus dilalap kebakaran, Sabtu (6/6/2026).
Tidak ada proyek pembangunan yang didanai pemerintah. Tidak ada bantuan besar yang datang mengubah keadaan dalam sekejap. Yang ada hanyalah kerja keras keluarga dan material bangunan yang diperoleh dari pinjaman toko material serta bantuan warga sekitar yang tergerak oleh rasa kepedulian.
Bagi Kanang, kebakaran tidak hanya merenggut bangunan tempat tinggalnya. Musibah itu juga memaksanya memulai kehidupan dari awal di usia yang tidak lagi muda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang penting rumah bisa berdiri lagi. Untuk membeli material, kami terpaksa mencari pinjaman ke sana-sini,” kata Kanang.
Sebagai kaum masjid, Kanang selama bertahun-tahun dikenal aktif mengurus berbagai kebutuhan rumah ibadah di lingkungannya. Ia membersihkan masjid, membantu kegiatan keagamaan, dan memastikan rumah ibadah tetap terawat serta nyaman digunakan masyarakat.
Namun setelah musibah kebakaran menimpa keluarganya, ia justru harus menghadapi perjuangan panjang untuk mendapatkan kembali tempat tinggal yang layak.
Sementara itu, Kasan sang anak kaum masjid mengatakan pembangunan rumah dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi keluarga. Keterbatasan biaya membuat proses pembangunan kerap terhenti ketika material bangunan habis dan dana tidak lagi tersedia.
“Kami bangun sedikit demi sedikit. Kalau ada uang atau material, pekerjaan dilanjutkan. Kalau belum ada, ya berhenti dulu sambil mencari cara,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, keberlangsungan pembangunan rumah keluarga Kanang terus dilakukan sesuai kemampuan.
Meski demikian, kebutuhan material dan biaya pembangunan masih jauh dari cukup.
Kondisi yang dialami keluarga Kanang mencerminkan kenyataan yang masih dihadapi sebagian korban bencana di wilayah pedesaan. Setelah masa darurat berakhir dan perhatian publik perlahan mereda, tidak sedikit korban yang harus berjuang sendiri untuk memulihkan kehidupannya.
Di lokasi pembangunan rumah, jejak-jejak musibah masih terasa. Sebagian material yang digunakan berasal dari sisa-sisa bangunan yang masih dapat dimanfaatkan. Sementara kebutuhan lainnya harus dipenuhi secara bertahap melalui pinjaman dan bantuan yang datang tidak menentu.
Bagi Kanang, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah tempat keluarganya kembali berkumpul setelah kehilangan akibat musibah yang datang tanpa peringatan.
Hingga kini, keluarga tersebut masih berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar proses pembangunan rumah dapat segera diselesaikan.
Harapan itu sederhana: memiliki kembali tempat berteduh yang aman setelah kehilangan segalanya akibat kebakaran.
Sebab bagi korban bencana seperti Kanang, musibah tidak berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Musibah baru benar-benar berakhir ketika mereka dapat kembali menempati rumah yang layak dan menjalani kehidupan secara normal.
Di tengah proses pembangunan yang berjalan perlahan, Kanang tetap menjalankan tugasnya sebagai kaum masjid. Di sela-sela kesibukan membangun rumah, ia masih mengurus rumah ibadah yang selama ini menjadi bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.
Di situlah ironi itu terasa begitu nyata. Seorang lelaki yang bertahun-tahun menjaga rumah ibadah, kini masih berjuang membangun kembali rumahnya sendiri dengan bertumpu pada hutang dan bantuan sesama warga.
Dan hingga hari ini, di tengah tumpukan material yang belum sepenuhnya menjelma menjadi bangunan, keluarga Kanang masih menunggu satu hal yang mereka yakini menjadi hak setiap korban bencana: kepastian untuk kembali hidup dengan layak.
Sebab bagi mereka, yang paling berat setelah kebakaran bukanlah menyaksikan rumah menjadi abu. Yang paling berat adalah menjalani hari-hari panjang ketika api telah padam, tetapi harapan akan pertolongan tak kunjung menemukan bentuknya.
Penulis. Sang Jurnalis Desa













