Menunggu Negara yang Tak Datang: Kaum Masjid Korban Kebakaran di Pandeglang Bangun Rumah dari Hutang

- Penulis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spread the love

PANDEGLANG-Mediapolisi.Com Tumpukan batu bata, pasir, dan beberapa sak semen terlihat berserakan di sebidang tanah di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten. Di lokasi itulah Kanang, seorang kaum masjid, berusaha membangun kembali rumahnya yang hangus dilalap kebakaran, Sabtu (6/6/2026).

Tidak ada proyek pembangunan yang didanai pemerintah. Tidak ada bantuan besar yang datang mengubah keadaan dalam sekejap. Yang ada hanyalah kerja keras keluarga dan material bangunan yang diperoleh dari pinjaman toko material serta bantuan warga sekitar yang tergerak oleh rasa kepedulian.

Bagi Kanang, kebakaran tidak hanya merenggut bangunan tempat tinggalnya. Musibah itu juga memaksanya memulai kehidupan dari awal di usia yang tidak lagi muda.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Yang penting rumah bisa berdiri lagi. Untuk membeli material, kami terpaksa mencari pinjaman ke sana-sini,” kata Kanang.

Sebagai kaum masjid, Kanang selama bertahun-tahun dikenal aktif mengurus berbagai kebutuhan rumah ibadah di lingkungannya. Ia membersihkan masjid, membantu kegiatan keagamaan, dan memastikan rumah ibadah tetap terawat serta nyaman digunakan masyarakat.

Namun setelah musibah kebakaran menimpa keluarganya, ia justru harus menghadapi perjuangan panjang untuk mendapatkan kembali tempat tinggal yang layak.

Sementara itu, Kasan sang anak kaum masjid mengatakan pembangunan rumah dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi keluarga. Keterbatasan biaya membuat proses pembangunan kerap terhenti ketika material bangunan habis dan dana tidak lagi tersedia.

“Kami bangun sedikit demi sedikit. Kalau ada uang atau material, pekerjaan dilanjutkan. Kalau belum ada, ya berhenti dulu sambil mencari cara,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, keberlangsungan pembangunan rumah keluarga Kanang terus dilakukan sesuai kemampuan.

Meski demikian, kebutuhan material dan biaya pembangunan masih jauh dari cukup.

Kondisi yang dialami keluarga Kanang mencerminkan kenyataan yang masih dihadapi sebagian korban bencana di wilayah pedesaan. Setelah masa darurat berakhir dan perhatian publik perlahan mereda, tidak sedikit korban yang harus berjuang sendiri untuk memulihkan kehidupannya.

Di lokasi pembangunan rumah, jejak-jejak musibah masih terasa. Sebagian material yang digunakan berasal dari sisa-sisa bangunan yang masih dapat dimanfaatkan. Sementara kebutuhan lainnya harus dipenuhi secara bertahap melalui pinjaman dan bantuan yang datang tidak menentu.

Bagi Kanang, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah tempat keluarganya kembali berkumpul setelah kehilangan akibat musibah yang datang tanpa peringatan.

Hingga kini, keluarga tersebut masih berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar proses pembangunan rumah dapat segera diselesaikan.

Harapan itu sederhana: memiliki kembali tempat berteduh yang aman setelah kehilangan segalanya akibat kebakaran.

Sebab bagi korban bencana seperti Kanang, musibah tidak berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Musibah baru benar-benar berakhir ketika mereka dapat kembali menempati rumah yang layak dan menjalani kehidupan secara normal.

Di tengah proses pembangunan yang berjalan perlahan, Kanang tetap menjalankan tugasnya sebagai kaum masjid. Di sela-sela kesibukan membangun rumah, ia masih mengurus rumah ibadah yang selama ini menjadi bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.

Di situlah ironi itu terasa begitu nyata. Seorang lelaki yang bertahun-tahun menjaga rumah ibadah, kini masih berjuang membangun kembali rumahnya sendiri dengan bertumpu pada hutang dan bantuan sesama warga.

Dan hingga hari ini, di tengah tumpukan material yang belum sepenuhnya menjelma menjadi bangunan, keluarga Kanang masih menunggu satu hal yang mereka yakini menjadi hak setiap korban bencana: kepastian untuk kembali hidup dengan layak.

Sebab bagi mereka, yang paling berat setelah kebakaran bukanlah menyaksikan rumah menjadi abu. Yang paling berat adalah menjalani hari-hari panjang ketika api telah padam, tetapi harapan akan pertolongan tak kunjung menemukan bentuknya.

Penulis. Sang Jurnalis Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediapolisi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Cagar Budaya Datangi Desa Pulokalapa untuk Penelitian Makam Syeh Quro, Namun Ditolak Pemerintah Desa
Matangkan Basis Massa, Hermanius Burunaung Masifkan Konsolidasi Calon Pengurus PK SBSI se-Banggai Bersaudara
Somasi Massal Dilayangkan, Operasional Theater Night Mart Karawang Terancam Disetop Permanen
Aliansi Ormas Islam Karawang Sidak Theatre Nightmart, Pastikan Tanpa Miras dan Aktivitas Maksiat
Kabiro Media Anti Korupsi Agus Silalahi Wafat, Insan Pers Berduka
Pererat Kebersamaan dan Empati di Bulan Suci Ramadhan Dojo Seishin (Inkanas Banggai) Berbagi Takjil
Bagi Takjil Gema Puasa Ramadhan, Wujud Kepedulian Yayasan Banggai Emas Semesta (BES)
Buka Puasa dan Santunan Yatim, Polres Bitung Dorong Nilai Kebersamaan Lintas Iman
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:19 WIB

Menunggu Negara yang Tak Datang: Kaum Masjid Korban Kebakaran di Pandeglang Bangun Rumah dari Hutang

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:15 WIB

Tim Cagar Budaya Datangi Desa Pulokalapa untuk Penelitian Makam Syeh Quro, Namun Ditolak Pemerintah Desa

Rabu, 29 April 2026 - 12:36 WIB

Matangkan Basis Massa, Hermanius Burunaung Masifkan Konsolidasi Calon Pengurus PK SBSI se-Banggai Bersaudara

Jumat, 3 April 2026 - 03:36 WIB

Somasi Massal Dilayangkan, Operasional Theater Night Mart Karawang Terancam Disetop Permanen

Sabtu, 28 Maret 2026 - 15:39 WIB

Aliansi Ormas Islam Karawang Sidak Theatre Nightmart, Pastikan Tanpa Miras dan Aktivitas Maksiat

Berita Terbaru