KARAWANG, MEDIAPOLISI.COM — Situs Makam Raden Anom Wirasuta yang berada di Dusun Bojong Manggu, Kampung Bojong Manggu, Desa Cintawargi, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, hingga kini masih menjadi tujuan ziarah masyarakat. Situs bersejarah tersebut memiliki luas sekitar 250 meter persegi dan menyimpan nilai penting dalam perjalanan sejarah Karawang,(16/12/2025).
Raden Anom Wirasuta merupakan putra dari Raden Adipati Singaperbangsa yang bergelar Panatayuda. Ia tercatat sebagai Bupati Karawang yang memerintah selama kurang lebih 44 tahun, menggantikan kedudukan ayahandanya. Dalam sejarah pemerintahan Karawang, Raden Anom Wirasuta dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh pada masanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah wafat, Raden Anom Wirasuta awalnya dimakamkan di Bojong Manggu, Pangkalan, sehingga kawasan tersebut juga dikenal dengan sebutan Penembahan Manggu. Seiring waktu, makam beliau dipindahkan ke kompleks makam para Bupati Karawang yang berada di Manggungjaya, Cilamaya. Meski demikian, lokasi makam lama di Bojong Manggu tetap ramai didatangi peziarah.
“Walaupun makam Raden Anom Wirasuta sudah dipindahkan, masyarakat masih banyak yang datang berziarah ke Bojong Manggu. Peziarah tidak hanya berasal dari Pangkalan, tetapi juga dari luar daerah,” ujar salah satu warga setempat.
Tak jauh dari situs makam, terdapat sumber mata air Cikahuripan yang berlokasi di Kampung Ciputri, Desa Cintawargi, Kecamatan Tegalwaru. Mata air tersebut berada tepat di bawah pohon Lame dan hingga kini menjadi sumber air utama bagi masyarakat di Kecamatan Tegalwaru dan Kecamatan Pangkalan.
Menurut Bubun, sesepuh penjaga mata air Cikahuripan, setiap hari air dari sumber tersebut diambil oleh masyarakat dalam jumlah besar untuk kebutuhan konsumsi. “Setiap harinya lebih dari seribu galon air diambil warga untuk keperluan air minum keluarga,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan, pada malam Jumat Kliwon, kawasan mata air Cikahuripan dan makam Raden Anom Wirasuta kerap dipadati peziarah. “Khusus malam Jumat Kliwon, banyak peziarah yang mandi di sumber mata air Cikahuripan sekaligus berziarah ke makam,” tambah Bubun.
Hal senada disampaikan Nuhun, sesepuh Cikahuripan lainnya, yang menyebut mata air tersebut memiliki keunikan tersendiri. “Air dari sumber mata air Cikahuripan ini digunakan masyarakat untuk air minum sehari-hari. Keanehannya, meskipun diambil setiap hari lebih dari seribu galon, mata air ini tidak pernah kering,” kata Nuhun.
Keberadaan makam bersejarah dan sumber mata air Cikahuripan menjadikan Bojong Manggu sebagai kawasan yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga manfaat besar bagi kehidupan masyarakat sekitar hingga saat ini.
(INDRA P. U)















