
BARITO UTARA– Setelah tertahan 5 jam di Pos Lampanang PT BEK, tim media Barito Utara melanjutkan perjalanan mengawal Pak Prianto beserta 5 pemilik ladang yang bersengketa dengan PT Nusa Persada Resources (NPR), Rabu (4/6/2026) dini hari.
Rombongan tidak bisa melintas dengan mobil setelah Km 90 PT MBL, tepat di muara jalan tambang PT NPR. Satu unit mobil katering karyawan juga tertahan. “Tadi jam 8 di sini tidak ada portal,” ujar seorang sopir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena mendekati pagi, tim media dan pemilik ladang terpaksa meninggalkan mobil dan berjalan kaki sekitar 5 km menuju ladang yang masih diklaim PT NPR.
Di lokasi, sudah ada sekitar 30 warga Desa Karendan yang datang lebih dulu menggunakan ces atau kelotok lewat Sungai Karendan. Mereka menjaga ladang yang diklaim digarap PT NPR tanpa izin.
Sekitar pukul 12.00 WIB, 2 unit mobil PT BEK dikawal anggota TNI dan Polri mendatangi lokasi. Pak Yosep, pimpinan rombongan, bertanya, *“Informasinya tadi malam rombongan ada sekitar tiga ratusan orang naik ke lahan, Pak.”*
Satun, warga Karendan, meluruskan, *“Tadi malam itu bukan rombongan kami, Pak. Melainkan warga lain dan warga Murung Raya yang ingin melintas karena ada acara perkawinan adat.”* Hal itu dibenarkan Ramli, perwakilan media.
*“Dari puluhan warga di sini, ini warga Desa Karendan yang datang lewat sungai. Mereka meminta kami sampaikan keluh kesah atas ladang mereka yang digarap PT NPR tanpa izin pemilik,”* tegas Ramli.
Hison, Ketua IWO Barut, mempertanyakan sikap PT NPR. *“PT NPR takut apa kalau warga masuk padahal mereka punya ladang di sini? Ini sumber penghidupan yang belum dibebaskan, bahkan takutnya digarap diperluas. Kalau perusahaan melarang melintas itu wajar jika tidak ada lagi hak mereka,”* tegas Hison.(Red)












