*Nambo-Mediapolosi.com* – Tausiah yang disampaikan oleh Masran S. Abadjia dalam rangkaian ta’ziah dan peringatan 10 hari wafatnya almarhum Aliq Alfikri sarat dengan pesan moral tentang pentingnya memperkokoh ketaatan kepada Allah SWT sekaligus menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial.
Kegiatan diawali dengan pembacaan doa oleh Imam Kelurahan Nambo Bosaa, Makmur Lampeaja, yang berlangsung khidmat dan diikuti seluruh jamaah.
Di hadapan ratusan jamaah, Ust. Masran mengawali tausiah dengan menekankan pentingnya adab dalam setiap aktivitas keagamaan. Ia mengapresiasi pemandu acara yang telah mengingatkan jamaah untuk tetap menjaga etika, khususnya saat pembacaan doa dan ayat suci Al-Qur’an.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, sikap tenang, tertib, dan khusyuk saat mendengarkan Al-Qur’an merupakan bagian dari ketaatan yang seringkali diabaikan.
“Adab adalah cerminan keimanan. Ketika Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkan dengan hati yang tenang dan penuh penghormatan,” ujarnya.
Selain aspek ibadah, Ust. Masran juga menyoroti pentingnya membangun keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat. Ia mengingatkan agar perbedaan latar belakang, termasuk persoalan keluarga seperti ayah kandung maupun ayah tiri, tidak menjadi sumber konflik yang merusak hubungan.
Dalam tausiahnya, ia mengutip firman Allah SWT tentang peran umat sebagai khairu ummah, yakni umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.
Ia juga menegaskan bahwa menyampaikan kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim, meskipun terasa pahit.
“Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit,” tegasnya di hadapan jamaah.
Terkait wafatnya almarhum Aliq Alfikri, Ust. Masran menjelaskan bahwa anak yang belum mencapai usia balig berada dalam keadaan suci. Ia menyebut, kepergian anak dalam kondisi tersebut dapat menjadi jalan bagi orang tua untuk memperoleh rahmat Allah SWT di akhirat.
Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk memperbanyak dzikir, seperti tasbih, tahmid, dan tahlil, terutama dalam shalat. Amalan tersebut, katanya, memiliki keutamaan besar dalam menghapus dosa, bahkan sebanyak buih di lautan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia juga mengingatkan pentingnya keharmonisan antara pemimpin negara dan pemimpin agama. Menurutnya, perselisihan di antara keduanya dapat berdampak luas terhadap ketenteraman masyarakat.
“Jika ingin negeri dijauhkan dari murka Allah, maka pemimpin negara dan pemimpin agama harus berjalan seiring, bukan saling bertentangan,” ungkapnya.
Menutup tausiahnya, Ust. Masran mengajak seluruh jamaah untuk segera berbenah diri, meningkatkan ketakwaan, serta memperbanyak istigfar dan doa. Ia menegaskan bahwa perubahan hidup berawal dari kesadaran diri untuk taat kepada Allah SWT.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya,” tuturnya.
Sementara itu, perwakilan keluarga duka, Muhrin Abatin, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, mulai dari proses pengobatan almarhum di rumah sakit hingga pelaksanaan pemakaman dan kegiatan ta’ziah.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan dan pelayanan kepada para tamu masih terdapat kekurangan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Wakil Ketua I DPRD Banggai, Wardani Murad, Lurah Nambo, Nurlaela Pantaiyo, kepala sekolah dan jajaran guru PAUD/TK Mutiara Nambo Bosaa I, Kepala Sekolah SD Inpres 3 Nambo, serta Kepala Sekolah SD Inpres Koyoan, Joswi Dilama, tokoh agama, tokoh masyarakat, sejumlah awak media yang tergabung dalam struktur pengurus dan anggota DPD PJS Banggai serta ratusan undangan lainnya yang mengikuti acara dengan penuh khidmat.
Acara kemudian ditutup dengan prosesi saling berjabat tangan antara para undangan dan keluarga yang berduka sebagai bentuk ungkapan doa, empati, dan dukungan moral. (tim)













